Gawat, Sistem Penunjuk Jalan Bisa Tumpulkan Otak ?

By | March 30, 2017

London, KompasOtomotif – Aplikasi penunjuk jalan telah massive digunakan pengguna kendaraan bermotor, bersamaan dengan menjamurnya ponsel pintar, sebut saja Waze atau Google Maps. Bahkan sistem telah menjadi fitur yg terintegerasi dengan head unit mobil.

Di sesuatu sisi ada masyarakat yg mempercayakan perjalanan pada rute yg ditunjukkan GPS (Global Positioning System) tersebut, tetapi masih ada dua kelompok yang lain yg memakai cara konvensional, dan menganggap ada hal yg tak mampu diakomodasi oleh teknologi komputer tersebut.

Keduanya, tentu saja membuat pengemudi sampai di tujuan, tetapi salah sesuatu cara yg digunakan, ternyata mampu meningkatkan kemampuan otak. Sebuah studi yg dikerjakan oleh University College London, menemukan beberapa area di bagian otak, yg berhubungan dengan arah jalan di wilayah hippocampus dan terkait pengambilan keputusan pada bagian prefrontal cortex, yg bekerja saat pengendara salah jalan atau saat melihat dua jalan yg harus dipilih sepanjang rute perjalanan mereka.

Para peneliti mencoba mengamati otak dari 24 sukarelawan yg dijadikan bahan uji coba, dengan melakukan simulasi berkendara. Beberapa memakai rute yg telah disiapkan (Pengemudi 1) dan sisanya tak (Pengemudi 2). Pada “Pengemudi 1” tak tampak ada aktivitas tambahan di otak mereka, sementara “Pengemudi 2”, memamerkan kepekaan terhadap kekusutan jaringan jalan London, dan membuat otak bekerja, seperti akan  merencanakan, memutuskan, dan menuai hasil dari penemuan mereka.

Telegraph Ilustrasi berkendara mobil di jalan

“Hasil kita cocok dengan deskripsi hippocampus yg mensimulasikan perjalanan di jalur yg mungkin dilalui di masa depan, sedangkan prefrontal cortex, menolong kami buat merencanakan mana yg mulai membawa kalian ke tujuan,” tutur Hugo Spiers, seorang profesor dari UCL of Experimental Psychology, mengutip Caranddriver, Selasa (28/3/2017).

“Ketika kalian memiliki teknologi yg memberitahu kami kemana harus pergi, bagian-bagian dari otak kemudian tak mulai merespon jaringan jalan. Artinya bahwa itu mulai mematikan otak dari satu yg menarik dari jalan-jalan di sekitar kita,” ujar Spiers.

Spiers melanjutkan, pada penelitian sebelumnya di 2011, yg dikerjakan pada driver taksi pasca tes mengemudi, di mana mereka harus menghafal segala kota, area hippocampus di otak mereka membesar. Sementara pengemudi yang lain di luar itu tidak, dan itu dapat menghilangkan “tuntutan tinggi” pada bagian-bagian otak (melemahkannya).

“Berpikir tentang di mana Anda berada, dalam ruang dan waktu adalah satu yg sehat,” ujar Spiers. Para pakar saraf setuju, cara terbaik bagi menjaga otak tetap aktif, adalah dengan menggunakannya.

Namun, perkembangan teknologi yg ada sulit buat membendung hasrat manusia buat mengunakannya, pasalnya ini dianggap dapat menolong dan memudahkan perjalanan tanpa harus repot bertanya dan berpikir, sehingga mengefisiensi waktu.

Lagi-lagi, segala kembali ke individu masing-masing, dan bagaimana dengan pembaca KompasOtomotif ?

Sumber: http://otomotif.kompas.com

Leave a Reply